PROLOG
Milano, Italy. April 22, 2013.
Suara riuh tepuk tangan dari penonton terdengar ke seluruh penjuru gedung pertunjukan. Sorakan penuh rasa puas mengakhiri pertunjukan teater pada suasana malam hari di La Scala. Seorang gadis sebagai pemeran utama yang kini berdiri di tengah panggung mengukir senyum lebar. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia bercampur haru ketika menatap ke arah para penonton.
Gadis tersebut membungkuk beberapa derajat sebelum meninggalkan panggung pertunjukan. Setelah memposisikan tubuhnya kembali pada posisi semula, tiba-tiba semua lampu yang berada di area panggung mulai berjatuhan satu persatu. Tak lama kemudian, mulai bermunculan api di sekitar panggung. Kepanikan dari seluruh orang pun merajalela dan tidak bisa dihindari.
Sheirene kebingungan harus meminta bantuan kepada siapa sehingga dia hanya mampu berjalan mondar-mandir untuk menghindar. Sementara seluruh orang yang berada di ruangan sibuk berlari keluar menyelamatkan diri masing-masing. Ia merasa takut ketika tidak ada satu pun yang peduli dengan keadaannya. Pasti garis takdirnya memang akan berakhir seperti ini. Bernasib sial karena selalu ditinggalkan oleh setiap orang dalam segala kondisi.
Mungkin Sheirene terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Sehingga, ia tidak menyadari bahwa tubuhnya telah kehabisan tenaga. Kepalanya sempat merasa pusing sebelum terjatuh. Ia tak henti merapal doa dan berharap Tuhan akan membantu.
“Please help me, God. I swear—”
“I'm here for you.”
Sheirene membelalakkan mata kaget karena ucapan seorang pria tiba-tiba menginterupsi doanya. Pria tersebut tergesa-gesa menggandeng tangan Sheirene untuk berlari keluar gedung dengan aman. Wajah pria jangkung itu nampak tak asing. Sepertinya Sheirene pernah bertemu dengannya entah di mana.
─────────────────────────
Sheirene terbangun dari tidurnya. Nafasnya naik turun tak beraturan. Ia memang sudah biasa mengalami mimpi buruk tentang orang lain. Namun, baru kali ini datang mimpi buruk tentang dirinya sendiri yang bahkan hampir mati.
Sheirene merenung di kamarnya. Kedua telapak tangannya menutup wajah. Ia tampak gusar. Kemudian, beberapa detik setelahnya terisak pelan agar tidak membangunkan yang lain pada tengah malam.
“Hahaha, stupid. Apa yang bisa diharapkan dari mereka?” gumam Sheirene lirih. Ia hampir lupa bahwa ia tinggal sendirian di apartemen. Tidak akan ada yang mengingat tentang hari ini. Jika hari ini ia benar-benar terluka pun tidak akan ada yang mencemaskannya.
Mata Sheirene melirik ke arah jam dinding. Ia membuang nafas kasar dan tersenyum miris. Lima menit lagi hari akan berganti. Itu berarti ulang tahunnya akan tiba beberapa saat lagi.
“Happy failed sweet seventeen, Sheirene Charlotte,” ucap Sheirene kepada diri sendiri.

Komentar
Posting Komentar